Popularitas Mac Meningkat, Ancaman Siber Ikut Melonjak
Selama bertahun-tahun, perangkat Mac dikenal memiliki pertahanan lebih kuat terhadap serangan siber dibandingkan PC. Namun, kondisi ini mulai berubah. Seiring meningkatnya jumlah pengguna Mac di seluruh dunia, perhatian pelaku kejahatan siber pun ikut bergeser. Target serangan kini tidak lagi didominasi pengguna Windows.
Dilansir dari Gizchina, Jumat (2/1/2026), tim keamanan dari Jamf Threat Labs mengungkap sebuah malware baru yang sangat berbahaya. Malware ini menyamar sebagai aplikasi biasa, lengkap dengan sertifikat digital resmi Apple, sehingga mampu melewati sistem keamanan macOS tanpa peringatan.
Modus Baru: Sertifikat Developer ID Apple Disalahgunakan
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pelaku serangan siber menggunakan sertifikat Developer ID resmi Apple yang diperoleh secara ilegal dari pasar gelap. Biasanya, macOS hanya mengizinkan aplikasi dengan sertifikat sah untuk dijalankan. Sertifikat ini membuktikan bahwa aplikasi tersebut telah ditinjau dan disetujui oleh Apple.
Namun, peretas kini menyuntikkan malware ke dalam aplikasi yang tampak bersih dan sah, kemudian mendistribusikannya menggunakan sertifikat yang valid. Hal ini membuat sistem macOS percaya bahwa aplikasi tersebut aman, dan tidak memunculkan peringatan kepada pengguna saat dijalankan.
Baca Juga : “OpenAI Buka Lowongan Kepala Kesiapsiagaan AI Rp9,3 M“
Trik Bait and Switch: Versi Bersih untuk Review, Berubah Setelah Terinstal
Metode penyusupan yang digunakan oleh hacker tergolong cerdik. Mereka mengirimkan versi “bersih” dari aplikasi ke Apple untuk melewati proses peninjauan awal. Aplikasi ini dibuat dengan Swift, bahasa pemrograman asli Mac, dan tidak menunjukkan perilaku mencurigakan.
Setelah disetujui dan diunduh oleh pengguna, aplikasi tersebut baru akan beraksi. Ia terhubung ke server jarak jauh dan mengunduh muatan berbahaya. Malware utama tidak disertakan dalam penginstalan awal, melainkan disimpan di cloud agar tidak terdeteksi oleh pemindaian otomatis Apple.
Evolusi MacStealer: Infeksi Lebih Tersembunyi dan Efektif
Malware ini diketahui sebagai versi terbaru dari MacSync Stealer, sebuah infostealer yang sebelumnya mengharuskan pengguna menjalankan perintah tertentu di terminal. Kini, metode penyebarannya jauh lebih halus. Malware dikemas dalam aplikasi palsu yang menyerupai perangkat lunak populer, seperti layanan pesan instan.
Setelah dibuka, aplikasi akan langsung menjalankan kode berbahaya di latar belakang. Tidak ada peringatan atau permintaan izin dari sistem. Untuk mengelabui sistem keamanan dan menambah ukuran file, pelaku juga menyertakan dokumen umpan seperti PDF palsu agar aplikasi tampak normal.
Strategi Penghindaran Deteksi: Jadwal Eksekusi dan Koneksi Internet
Pembuat malware menerapkan teknik lanjutan untuk menghindari deteksi sistem keamanan maupun kecurigaan pengguna. Malware hanya aktif saat perangkat terhubung ke internet dan dijalankan secara berkala dengan pengatur waktu. Ini mencegah aktivitas mencurigakan yang bisa memperlambat sistem dan memicu pengguna melakukan pemindaian.
Tim Jamf yang mengungkap ancaman ini langsung melaporkan temuan mereka ke Apple. Menanggapi laporan tersebut, Apple segera mencabut sertifikat yang digunakan untuk menyebarkan malware, sekaligus memperbarui sistem deteksi di seluruh jaringan ekosistemnya.
Serangan ClickFix: Iklan Google Palsu Arahkan ke Percakapan AI Berbahaya
Selain memanfaatkan sertifikat Apple, peretas juga menjalankan modus lain melalui iklan Google. Metode ini dijuluki ClickFix. Pelaku menyusupi hasil pencarian populer yang berkaitan dengan masalah pada macOS—seperti cara mengosongkan ruang penyimpanan atau membersihkan sistem—dengan iklan berbahaya.
Saat pengguna mengklik iklan, mereka diarahkan ke halaman palsu yang menampilkan percakapan seolah-olah bersama ChatGPT atau Grok AI. Percakapan itu tampak sah dan memberikan jawaban teknis untuk membantu pengguna. Namun, pada kenyataannya, solusi yang diberikan justru berisi instruksi terminal berbahaya.
Skrip Jahat Mengelabui dengan Dialog Palsu
Tim keamanan dari Huntress, bersama Kaspersky, menelusuri serangan ClickFix dan menemukan bahwa skrip terminal yang digunakan akan menampilkan dialog palsu untuk meminta kata sandi administrator. Setelah pengguna lengah dan memberikan akses, malware bernama AMOS (Atomic macOS Stealer) langsung diunduh dan dijalankan.
AMOS terkenal sebagai malware pencuri informasi yang dapat mengakses password, data dompet kripto, cookie browser, hingga data sistem penting lainnya. Sekali aktif, malware ini bekerja cepat dan tersembunyi, meninggalkan dampak yang signifikan bagi pengguna yang tidak menyadari infeksi telah terjadi.
Google AI Mode: Kemajuan Positif di Tengah Ancaman Siber
Di tengah kabar tentang penyalahgunaan iklan Google, perusahaan teknologi raksasa tersebut juga menghadirkan fitur baru yang inovatif. Google memperluas layanan AI Mode dengan meluncurkan fitur Create with Canvas, yang dirancang untuk membantu pengguna menyusun itinerary perjalanan secara otomatis dari deskripsi singkat.
Fitur ini masih terbatas untuk pengguna di Amerika Serikat yang telah mengaktifkan AI Mode melalui Labs. Namun, Canvas menjadi bukti bagaimana AI dapat membantu produktivitas pengguna dalam merancang rencana perjalanan, lengkap dengan rekomendasi hotel, restoran, hingga aktivitas lokal, langsung dari percakapan dengan Gemini AI.
Kesimpulan: Keamanan Perangkat Mac Perlu Revisi Ulang
Ancaman terbaru terhadap macOS menunjukkan bahwa ekosistem Apple tidak lagi kebal dari serangan siber. Dengan peretas kini memanfaatkan celah di sertifikat digital resmi, serta menyusupi iklan Google untuk menyebarkan malware, pengguna Mac harus lebih waspada dari sebelumnya.
Langkah cepat Apple mencabut sertifikat berbahaya dan peningkatan kesadaran pengguna menjadi kunci utama dalam menanggulangi serangan siber di masa depan. Selain itu, pengguna disarankan hanya mengunduh aplikasi dari App Store resmi dan menghindari mengikuti instruksi terminal dari sumber tidak terpercaya.
Sebagaimana peringatan dari para ahli keamanan siber, meningkatnya target pada macOS hanya akan memperluas cakupan serangan yang sebelumnya didominasi Windows. Artinya, pengguna Mac kini harus mulai mengadopsi praktik keamanan digital yang lebih disiplin dan proaktif.
Baca Juga : “Peretasan MacBook: Cara mengetahui apakah Mac Anda diretas“







